Uhm, saya cuma penasaran aja, apa didunia ini, cuma saya satu-satunya orang yang memikirkan, kenapa efek cinta sedemikian dahsyatnya, sebagai manusia secara pribadi, rasa-rasanya saya selalu memikirkan setiap jam, uh.. setiap menit, setiap detik bahkan! tentang cinta itu sendiri. Sepertinya jauh di dalam hati ada sebuah tabung yang di beri garis-garis penunjuk suhu kaya thermometer, yang sampe detik ini belum ada teknologi kedokteran yang bisa menangkap gambar itu, dia sangat kecil, terselubung, tersembunyi namun berefek sangat dahsyat bagi kesehatan psikis dan fisik manusia.
Tabung kecil itu yang bisa menstimulan rasa sedih dan bahagia, jika dosisnya ada pada standar yang cukup, orang menjadi normal. Dan ketika dosisnya meningkat atau menyusut, orang tidak lagi normal. Dan istimewanya kata standar bagi tiap tabung berbeda-beda, relative. Tergantung dari sebaik apa gizi yang dia asup ke tubuhnya, seberapa banyak buku yang dia baca, seberapa luas wawasan yang dia punya, seberapa tebal iman yang dia miliki, dan, seberapa banyak dia memiliki team dalam hidupnya yang bisa mensupplai kebutuhan itu. Mungkin begitu. Ya, mungkin. Ini cuma iseng-iseng tebakan aja *big grin*
Teman saya hampir gila memikirkan ex.suaminya yang hobi berganti-ganti pasangan, tapi dia tetap tidak bisa melepaskan cinta itu sendiri. Teman lainnya, sampai hati, menyiksa dirinya sendiri sebagai usaha terakhir agar kekasihnya mau kembali. Yang satunya bahkan sampai mencari tempat menyendiri ketika bermasalah dengan pacarnya hingga jauh kenegeri seberang *edan*, yang terakhir malah seorang teman yang dulu pernah dekat, memproklamirkan bahwa saya ini adalah jodohnya, padahal kami masing2 memiliki relationship. ckckc, seperti lingkaran setan. Padahal tidak ada satu setan pun yang tahu apa artinya cinta. Hehehe.
kesimpulan saya, ga perlu mencari dosis2 untuk menaikan thermometer hati kita kedalam standar normal, jika kita sudah mencintai diri kita lebih dahulu, ini yang saya lihat pd beberapa teman-teman yang merespon cintanya secara berlebihan. Dia bahkan tidak mencintai dirinya sendiri, dia hanya merasa dicintai jika ada orang lain yang mencintainya.
Tante saya semalam menunggui saya selesai mengaji hanya untuk mengatakan bahwa dunia ini adalah dunia yang penghuninya sama sekali tidak ramah. Dan ketika cinta menjadi tema yang paling laku di jual, paling laris dibahas, paling menyenangkan untuk di rasakan, tante saya hanya berkata untuk tidak lupa *pertama-tama* mencintai diri sendiri.. bukan kemudian jadi egois atau self sentris sih, mencintai diri sendiri terlebih dahulu akan membuat satu garis yang tegas tentang bagaimana orang diluar diri kamu bisa mencintai seperti yang kamu inginkan..
Saya percaya dan mencintai diri saya, juga percaya dan mencintai yang menciptakan diri saya ini, saya percaya dan mencintai ibu bapak yang lewat cinta mereka saya terlahir, saya percaya dan cinta pada keluarga yang menemani saya tumbuh, pada sahabat yang telah teruji oleh waktu, tapi saya belum pernah se-cinta dan se-percaya itu pada pasangan hidup saya nanti, mungkin ketika saya menua dan renta pertanyaan itu baru terjawab. Dan untuk perjalanan panjang menemukan jawaban atas pertanyaan itu saya membekali diri dengan mencintai diri saya sendiri sebijak mungkin.
Saya telah tumbuh besar dan menyatakan diri untuk siap mencinta dan di-cinta, setelah sebelumnya;
Ibu Bapak menimang saya dengan kasihnya, memberi saya makan, memberi saya pendidikan, tak pernah memutuskan hubungan anak-orangtua ketika saya membuat kesalahan besar, meyakinkan bahwa saya anak terhebat yang orangtua manapun bisa miliki, saya telah menjaga diri, saya mengarungi waktu untuk mencium aroma kehidupan, mengecap manis dan pahitnya, saya mencintai diri sendiri, untuk kemudian bisa di cintai dengan benar..
Jadi saya tak pernah takut akan pengkhianatan, saya tak pernah takut akan cinta yang mematahkan hati dan menghancurkan kehidupan, saya tidak mengenal cinta yang melukai dan membutakan hati karena itu... cinta itu, tidak LAYAK bagi saya.
Ketimbang saya bertahan dengan cinta yang demikian, saya memilih berhenti dicintai.. dan meyakinkan diri, bahwa saya hanya perlu waktu untuk kemudian bertemu dengan orang-orang yang telah mencintai dirinya sendiri, hingga dia tau pasti bagaimana mencintai orang lain dengan benar..
NB.
Untuk Oriana dan siapapun yang bersedih karena cinta, hei, Seharusnya, cinta tidak membuat airmata mengalir di wajah cantikmu itu. Apa kamu sudah mencintai dirimu sendiri?
kurindu disayangi
sepenuh hati
sedalam cintaku
setulus hatiku
kuingin memiliki
kekasih hati
tanpa air mata
tanpa kesalahan
bukan cinta
yang melukai diriku
dan meninggalkan hidupku
lagi
DYGTA